Teachers and Praise

Dalam tulisan sebelumnya (“Words to Inspire”) dikatakan bahwa sebaiknya kita berhati-hati dalam menggunakan kata-kata/ kalimat kepada murid-murid karena tanpa kita sadari bisa saja kata-kata/kalimat yang kita gunakan malah memberikan efek negatif dalam perkembangan mental dan karakter mereka. Disitu juga dituliskan bahwa, dalam memuji murid kita bila mereka berhasil dalam mengerjakan tugas, sebaiknya kita TIDAK mengatakan kalau mereka itu pintar, hebat, dsb. Saya bukannya mengatakan kita tidak boleh mengatakan kepada murid-murid kita kalau mereka itu pintar atau hebat, namun sebaiknya kata-kata itu digunakan pada saat-saat tertentu saja. Akan lebih baik bila kita memuji USAHA mereka dalam mengerjakan tugas.

Mungkin anda bertanya kenapa tidak boleh sering mengatakan kalau mereka hebat dan/atau pintar? Alasannya adalah karena ditakutkan murid-murid tidak menangkap maksud anda yang sebenarnya ketika anda mengatakan hal tersebut (untuk lebih lengkapnya silahkan dibaca tulisan sebelumnya, “Words to Inspire”). Hal ini juga ditunjang oleh hasil penelitian yang dilakukan psikolog Carol Dweck dari Universitas Colombia di New York baru-baru ini. Hasil dari penelitian ini menunjukkan apa yang terjadi ketika anak-anak dipuji karena usaha mereka, dan apa yang terjadi bila anak-anak dipuji karena kepandaian mereka.

Dweck membentuk sebuah kelompok yang anggotanya adalah anak-anak berumur sekitar 10 tahun. Kemudian mereka diminta mengerjakan puzzle yang cukup mudah sehingga semua anak dapat mengerjakan dengan cepat dan tanpa kesulitan. Kemudian Dweck memuji anak-anak tersebut atas hasil kerja mereka dengan mengatakan “You must be smart at this” kepada setengah dari anak-anak itu, dan mengatakan “You must have worked really hard” kepada setengah yang lain.

Dalam tes-tes selanjutnya, anak-anak yang dipuji karena usaha mereka memilih puzzle yang lebih sulit untuk dikerjakan. Ketika diberikan tugas yang seharusnya untuk anak-anak yang 2 tahun lebih tua, mereka mengerjakannya dengan giat dan penuh semangat, walaupun pada akhirnya mereka tidak berhasil. Pada tes terakhir dengan tingkat kesulitan yang sesuai dengan umur mereka, nilai mereka mengalami peningkatan sebesar 25 persen.

Bagaimana dengan anak-anak yang dipuji karena “kepintarannya?” mereka menolak untuk mencoba mengerjakan puzzle yang lebih sulit dan lebih memilih puzzle yang pasti dapat memberi mereka nilai yang baik. Ketika mereka pada akhirnya mencoba tugas yang “lebih sulit”, mereka kehilangan semangat dan menjadi emosional. Pada tes terakhir yang sama seperti kelompok anak yang lain, nilai mereka turun 20 persen.

Berdasarkan penelitian ini maka Dweck menyimpulkan bahwa ketika kita memuji anak-anak karena kepandaian mereka, anak-anak mengartikannya sebagai ‘look smart, don’t risk making mistakes’. Sebaliknya bila memuji dengan menekankan pada usahanya maka kita memberi anak-anak variabel yang mereka bisa kendalikan.

Oleh karena itu baiknya kita mulai berhati-hati atas pilihan kata yang kita gunakan ketika kita memuji murid-murid kita agar mereka menjadi orang-orang yan tidak takut untuk berbuat kesalahan dalam belajar demi kemajuan mereka sendiri.

Diadaptasi dari Reader’s Digest, Oktober 2008

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: