Ingat…harus open-minded

Apa itu open-minded? Bagaimana seseorang yang open-minded? Pertanyaan ini saya ajukan kepada siswa/i saya sebelum kami menonton vcd dokumenter yang berjudul “Wild life, Indonesian forests” dan “Spirit of rainforest”. Kami sedang mempelajari bioma, salah satu aktivitas kami adalah menonton film yang berhubungan dengan bioma. Spontan mereka mengacungkan tangan, saling berebut untuk menjawab. ”Harus berpikir terbuka, ga boleh ngeledek orang, nerima kalau tiap orang berbeda, ga boleh maksain kehendak, berpikir positif, dll.” Semua itu benar, tapi pada prakteknya, apakah semudah itu? Ternyata tidak!!

 Saat menonton vcd tersebut, sebagian dari mereka bereaksi (menjerit,  berkomentar atau terkikik) saat melihat hal-hal yang tidak biasa. Contohnya saat melihat suku Korowai yang tinggal di pedalaman hutan hujan tropis di daerah Papua, seorang siswa bertanya ”Ibu, kenapa mereka ga kena Undang-undang anti pornografi?”  Sebenarnya pertanyaannya masuk akal, mengingat suku tersebut masih berada di wilayah Indonesia. Tapi sebelum saya sempat menjawab, dia berkata ”oh iya, harus open-minded”. Begitu juga saat mereka melihat Suku Machiguenga yang berdoa kepada dewa singkong sebelum mencabut singkong (mereka spontan bertanya ”memangnya ada dewa singkong?” dan langsung dijawab dengan tidak lain dan tidak bukan ”ingat…kita harus open-minded”. Lucunya setiap ada siswa/i yang berkomentar, pasti temannya akan berkata ”ingat.. harus open-minded”. Walhasil sepanjang vcd itu diputar saya mendengar kata-kata ”ingat…harus open-minded” diucapkan oleh mereka secara bergantian. Mereka ”sibuk” saling mengingatkan untuk berpikir terbuka.

 Saya jadi mempertanyakan apakah mereka  dapat menangkap esensi film yang mereka tonton karena mereka terlalu berkonsentrasi untuk menjadi seorang yang open-minded. Walaupun setelah itu mereka dapat menulis refleksi serta menjawab pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan film yang mereka tonton, saya masih mempertanyakan perlu tidaknya saya menyinggung tentang open-minded sebelum menonton film dan sampai saat ini saya masih belum mendapat jawabannya.  Hmmm…bahan yang bagus untuk refleksi diri saya sendiri.

Satu Tanggapan

  1. hahhaa
    saya bisa bayangkan suasananya

    Jangan tertawa Pak Agus..harus open minded.

    Terima kasih teman-teman ..
    kalian telah membentuk siswa yang open minded sejauh ini.

    Justru saya masih ragu soal apakah mereka benar-benar open-minded dan benar-benar dapat menerapkannya dalam kehidupan nyata.

    Saya yang sudah menjadi manusia dewasa saja kadang masih mengenakan kaca mata kuda saat melihat perbedaan

    Betul sekali pak, saya rasa semua orang mengalaminya dan yang kita semua perlukan adalah orang-orang seperti siswa/i kita yang terus menerus mengingatkan supaya OPEN-MINDED….huahahaha

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: