Main kereta api

Ini salah satu dari permainan yang digemari siswa/i di kelas saya. Bagaimana cara bermainnya?  

1.      Siswa/i diminta untuk membuat baris panjang seperti kereta

2.     Kedua tangan harus diletakkan di pundak temannya yang berada di depannya

3.     Harus berjalan mengikuti “sang lokomotif”

4.     Tidak boleh bersuara atau berbicara

5.     Tidak boleh melepas penggangan

6.     Tidak boleh menyentuh benda apapun yang ada disekitar mereka

7.     Terus berjalan berputar-putar kelas sampai ada instruksi untuk berhenti 

Terdengar mudah, tapi dalam prakteknya lumayan susah. Jika mereka berhasil tanpa melanggar satupun peraturan di atas, masing-masing mendapat satu buah stiker untuk apa?

Permainan sederhana ini mengajarkan siswa/i untuk dapat berkerjasama dalam kelompok (working collaboratively). Mereka belajar untuk mendahulukan kepentingan bersama daripada kepentingan pribadi. Sebagai contohnya, jika seorang anak menggaruk kepalanya, atau menyenggol suatu barang, atau tanpa sengaja bersuara maka permainan akan segera dihentikan. Mereka belajar bagaimana berempati (terutama bagai siswa/i yang menjadi lokomotif) karena mereka harus memikirkan dan memilih “jalur aman” agar teman-teman lainnya bisa melewati tanpa banyak rintangan. Mereka juga belajar menghargai perasaan dan kepentingan sesama dengan tidak memberikan komentar-komentar negatif maupun memarahi temannya jika salah satu dari mereka membuat kesalahan. Yang terakhir, mereka belajar untuk tidak mudah menyerah dan selalu bertekad untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan jika mereka mendapat kesempatan untuk bermain kereta lagi.

Anda tertarik untuk bermain kereta api??  foto-utk-blog.jpg

4 Tanggapan

  1. Enak banget kalau setiap sekolah ada sistem seperti ini.
    Sayangnya sistem pendidikan di negeri ini tidak menunjang hal ini.
    Padahal “bermain” penting untuk anak, karena ada anak tidak bisa belajar secara “serius”.
    Ketika masih kecil, saya adalah salah satu anak yg sangat sulit untuk menerima “pressure” untuk belajar serius. Dalam 5 hari sekolah, saya bisa masuk hanya 2 hari saja.
    Untungnya sekolah saya dulu dapat “mengakomodasi” kebutuhan saya.
    Namun tidak semua anak bisa seberuntung saya .
    Makanya saya menghimbau kepada pendidik-pendidik di negeri ini, sudah lah masa “otoriter” itu berlalu. Galak beda dengan tegas. Disiplin beda dengan kejam .
    Percaya deh, dengan bermain, anak tidak lantas menjadi bodoh dan malas dikemudian hari.
    Buktinya saya bisa kok “survive” di FEUI .
    Semua karena apa?
    Karena BERMAIN!!!!!

    Anak-anak memang butuh bermain, mereka juga butuh lingkungan yang menunjang agar dapat merasa nyaman. Saat mereka merasa nyaman, mereka tidak menganggap pergi ke sekolah maupun belajar sebagai hal yang “membebani” dan sebisa mungkin dihindari. Walaupun kami banyak “bermain” dalam proses belajar mengajar, kami tetap tegas dan konsisten terhadap perjanjian-perjanjian yang kami sepakati di kelas. Jika ada anak yang melanggar kesepakatan tsb, ia tetap harus menanggung konsekuensi dari perbuatannya itu.

    Cheers

  2. Bermain memang benar-benar dunia anak-anak, dan mungkin masih dunia siapapun. Bermain dapat menjadi beraneka ragam tergantung kepada kreatifitas anak-anak. Memunculkan kreatifitas tentunya harus dengan berulang-ulang yang diaplikasikandalam bermain. Dan, dari bermain jutaan idea cerdas dapat diperoleh. Kini, apakah anak-anak sudah mendapatkan porsi bermain yang kreatif?, siapakah yang mampu mengarahkan?. Semoga berita ini jadi inspirasi. Good Luck

  3. Kami belum pernah memainkan games kereta api ini, sepertinya menarik. Boleh di tiru kan Bapak Ibu guru?

    Tentu saja boleh🙂

  4. bagus itu. ijin untuk mempraktekannya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: