Matematika…..oh, matematika….

dsc02126.jpgUntuk sebagian besar anak, matematika adalah suatu momok yang menakutkan. Mendengar kata “matematika” saja mereka sudah kehilangan minat apalagi mempelajarinya? Saya sendiri bukanlah seorang yang pintar matematika, tidak pernah menjadi murid yang brilian dalam matematika selama saya bersekolah dulu. Saya juga merasa takut dengan kata tsb. Saat menjadi guru SD yang mengharuskan saya mengajar matematika, saya terpaksa harus mengatasi rasa takut saya. 

dsc01931.jpgApa yang akan saya ajarkan? Bagaimana cara mengajar dengan tepat? Bagaimana jika saya kurang menguasai materi? Semua pertanyaan-pertanyaan tsb berkecamuk dipikiran saya, yang paling menggelitik saya adalah, bagaimana caranya agar murid-murid dapat menikmati pelajaran tanpa merasa tertekan dan bosan. Saya sangat beruntung berada di lingkungan yang sangat mendukung, baik dari rekan sesama guru maupun tersedianya fasilitas yang memadai. Untungnya, Sekolah kami tidak menetapkan buku paket tertentu, membiarkan kami untuk berkreasi dan berinovasi dalam mengajar materi-materi pembelajaran sesuai silabus yang ada. Kami juga bekerja dalam tim (sesuai kelas yang kami ajarkan) sehingga hampir setiap saat kami bertukar pikiran mengenai cara pengajaran. Ternyata, ada banyak hal yang dapat kita lakukan di kelas agar pelajaran matematika menarik.

Salah satu metode yang paling sering kami pakai adalah Fun Active Learning. Kami banyak melakukan kegiatan-kegiatan  hands on activities. Jangan sangka, semua alat yang kami gunakan untuk mendukung kegiatan kami itu tidak selalu mahal atau susah diperoleh. Kami banyak menggunakan barang-barang bekas.Guru juga, pemulung juga….

Salah satu benda yang sangat bermanfaat bagi kami dalam menunjang proses pengajaran matematika adalah brosur promosi barang (berikut dengan harganya) yang tersedia si supermarket-supermarket besar dan dapat diambil secara GRATIS tanpa batasan kuantitas. Apa yang kami lakukan dengan brosur-brosur tsb? Kami menggabungkan berbagai konsep matematika dalam satu aktifitas berdurasi 2×35 menit. Kami meminta murid-murid untuk bekerja dalam kelompok. Masing-masing kelompok diberikan beberapa lembar brosur, kemudian mereka diminta untuk berbelanja kerperluan camping ke Gunung selama 1 minggu dengan hanya menghabiskan uang maksimal Rp 150.000,00. Langsung saja suasana kelas menjadi ramai. Mereka sibuk berdiskusi apa yang harus mereka beli, mana yang merupakan kebutuhan dasar dan mana yang bukan, berapa jumlah yang mereka butuhkan, berapa harga barang-barang tsb dan apakah uang mereka cukup. Tanpa mereka sadari mereka sedang memdalami konsep-konsep matematika:

·        Uang

·        Pembulatan angka

·        Perkalian

·        Penjumlahan

·        Satuan ukur ( gram dan kilogram)

Saat mereka sibuk dengan “belanjaan” mereka itu, kami para guru berkeliling menajamkan pendengaran dan sekaligus membuat catatan-catatan kecil dari observasi kami untuk masing-masing anak. Kami  juga banyak melakukan permainan-permainan edukatif yang berhubungan dengan angka. Sehingga, pelajaran matematika menjadi pelajaraan yang menyenangkan baik bagi siswa/i maupun bagi guru.

2 Tanggapan

  1. wah inovatif sekali, sederhana dan dapat dilakukan oleh setiap guru atau orang tua dalam membimbing/mengajarkan anak-anaknya belajar matematika. Ok bisa ditiru nih, selamat untuk bu guru !

  2. bagus sekali idenya, terimakasih, saya menjadi terinspirasi untuk menambahkan di materi tugas paper saya mengenai mengatasi masalah fobia terhadap matematika. selain cara tersebut adakah cara lain untuk mengatasi fobia anak-anak?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: