Belajar bersama melalui inkuiri

Saat pertama kali mendengar kata “inkuiri” kita (sebagai guru) mulai bertanya apa arti dan maksud dari inkuiri dan bagaimana menerapkannya dalam proses belajar-mengajar setiap hari. Jika kita perhatikan, saat kita melakukan pembelajaran tematik, kita tetap ”bertahan” pada buku panduan/buku teks sehingga kita lebih terfokus pada bagaimana menyampaikan isi dari buku tersebut sesuai target. Tanpa kita sadari, kita hanya meminta siswa/i kita untuk mengumpulkan fakta-fakta tentang topik yang kita ajarkan, bukannya mengajak mereka untuk “menyelami” lebih dalam apa sebenarnya tujuan dari pembelajaran topik tersebut.

Jika kita mengamati anak-anak kecil dibawah umur, kita akan sangat terkesan bagaimana mereka menetapkan metoda inkuiri dalam kehidupan mereka yang sederhana. Secara terus menerus mereka belajar berdasarkan keingintahuan mereka, kemudian bereksplorasi sehingga akhirnya menemukan jawaban-jawaban atas apa yang mereka pertanyakan. Begitu juga inkuri diterapkan di kehidupan kita sehari-hari. Banyak hal yang kita pertanyakan sehingga kita harus mencari sendiri jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut. Terkadang kita membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menjawab pertanyaan itu dengan melakukan berbagai cara untuk mendapat jawabannya.  

Oleh karena itu, metode inkuri sangat tepat digunakan dalam proses belajar-mengajar di sekolah. Inkuri menawarkan perspektif yang berbeda dalam kurikulum. Melalui metoda inkuiri, siswa/i dapat menanyakan bermacam-macam pertanyaan mengenai topik yang terlitas di benak mereka, juga dapat menentukan sendiri cara mengumpulkan informasi dan menyampaikannya. Siswa/i diajarkan untuk menjadi kritis, tidak hanya menerima apa saja yang disodorkan di depan mereka tanpa mempertanyakan kebenarannya atau belajar untuk memahami arti sesungguhnya dari ungkapan ”banyak jalan menuju Roma”. Mereka belajar bahwa sumber informasi bukan hanya buku teks atau buku panduan, juga tidak masalah cara apa yang mereka gunakan dalam proses belajar yang penting hasilnya jelas dan tidak menyimpang dari topik.

Secara teoritis metoda inkuiri memang terdengar mudah. Tapi saat kita mengimplemantasikannya di dalam kelas, kita akan menemukan banyak sekali tantangan. Kita tidak lagi bisa berpegangan dengan 1 buku teks/buku panduan. Kita harus siap, bahwa setiap anak mempunyai pola pikir dan minat yang berbeda sehingga mereka tentunya akan mendalami hal-hal yang berbeda walaupun masih dalam topik yang sama. Terkadang (seringnya) kita sendiri kurang memahami topik tsb. Tapi kita tidak usah malu untuk megakuinya,  di situlah indahnya metoda inkuiri, guru dan murid dapat belajar bersama.

Berdasarkan pengalaman saya mengajar selama ini, saya menemukan perbedaan yang signifikan antara siswa/i yang terbiasa belajar dengan metoda inkuri dengan yang tidak. Siswa/i yang terbiasa cenderung lebih berani untuk mengungkapkan pikirannya (tidak peduli benar atau salah yang penting logis menurut mereka), dapat lebih mudah menuangkan ide mereka dalam berbagai bentuk serta mempertanyakan pendapat-pendapat orang lain walaupun pada akhirnya tetap terjadi perbedaan, mereka dapat mencoba menerima dengan berpikir ”setiap orang mempunyai perspektif yang berbeda”.

About these ads

2 Tanggapan

  1. Hanya guru yang punya sifat inkuiri yang bjuga bisa melahirkan siswa inkuiri. Selamat, anda adalah salah satunya.

  2. Selamat berjuang mencetak generasi pembelajar.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: