Menulis puisi

Apa, mengajar menulis puisi? Bagaimana caranya? Pertanyaan-pertanyaan ini berkecamuk dalam pikiran saya. Mengajar siswa/i kelas 4 menulis puisi itu ternyata tidak mudah. Apalagi bagi guru seperti saya  yang notabene tidak terlalu mengerti puisi. Sebelumnya, saya berkata terus terang kepada siswa/i di kelas bahwa saya tidak mengerti puisi dan saya akan belajar bersama dengan mereka. Ini adalah pengalaman saya tahun lalu…Saya meminjam berbagai buku kumpulan puisi dari perpustakaan sekolah dan mengajak siswa/i saya untuk membaca bersama. Kemudian kami mencoba untuk memahami arti dari puisi-puisi tsb, pesan apa yang akan disampaikan penulisnya, perasaan apa yang tersirat dari puisi-puisi itu, mencoba memahami kata-kata yang ada dalam tulisan (yang tidak umum digunakan dalam percakapan sehari-hari) dll. Setelah mengahabiskan banyak waktu melakukan semua hal disebut diatas, akhirnya saya meminta mereka semua untuk menulis puisi yang berhubungan dengan perasaan (menyampaikan perasaan sedih, marah, gembira, kecewa dsb). Setelah selesai, saya mengumpulkan hasil karya mereka dan alangkah kagetnya saya. Hampir seluruh siswa menulis tentang binatang! Sebenarnya tidak masalah, tapi ekspektasi saya sedikit lebih tinggi, mengingat mereka sudah duduk di kelas 4 dan sepertinya mampu menulis lebih baik. Setelah pelajaran selesai, saya masih “memutar otak” bagaimana caranya agar siswa/i saya berhasil mencapai “target” saya. Walaupun aktivitas yang saya rancang GAGAL TOTAL, saya belum menyerah.

Keesokan harinya, saya menggunting puisi-puisi anak yang terdapat di Koran dan majalah-majalah (bekas) dan menempelkannya di kertas berikut dengan pertanyaan-pertanyaan:

·        Apa itu puisi?

·        Menurut kalian, puisi ini mengenai apa?

·        Pesan apa yang kalian tangkap setelah membaca puisi ini?

·        Perasaan apa yang kiranya akan disampaikan penulisnya?

Kertas-kertas tsb saya letakkan di setiap meja di kelas, kemudian siswa secara bergantian membaca puisi-puisi itu dan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang saya berikan. Setelah itu saya meletakkan lembaran-lembaran kertas bertuliskan : marah, sedih, bahagia, menyesal, apresiasi dan bingung disetiap meja di kelas   (kami mempunyai 5 meja di kelas, setiap meja terdiri dari 3 sampai 4 anak). Kemudian saya meminta mereka  kembali ke meja/kelompoknya masing-masing dan menulis sebanyak-banyaknya kosa kata yang berkaitan dengan kata yang tertulis di kertas. Setiap kelompok saya beri waktu 5 menit untuk menulis dan kemudian mereka harus berotasi (bus stop activity) sampai akhirnya semua kertas terisi oleh tulisan-tulisan mereka. Saya akhrinya meminta siswa/i untuk mengabil sepotong kertas di dalam kotak yang telah saya sediakan ( potongan-potongan kertas itu berisikan kata-kata marah, sedih, bahagia, menyesal, apresiasi dan bingung). Setiap anak saya minta untuk menulis puisi yang menunjukkan perasaan  sesuai potongan kertas yang mereka pilih itu (hehehe seperti arisan). Saat berusaha menulis puisi, mereka dapat melihat kumpulan kosa kata yang sebelumnya mereka tulis di kertas untuk mempermudah mereka. 

 Akhirnya setelah setiap siswa mengumpulkan puisi mereka, saya bisa tersenyum lega. Mereka tidak lagi menulis tentang binatang, mereka menulis mengenai banyak hal. Contohnya, seorang siswa yang mendapat tugas menulis puisi dengan tema ”sedih” mengumpamakan dirinya seorang anak penghuni panti asuhan yang terus-menerus menanti seseorang untuk membawanya pergi. Juga seorang siswa yang mendapat tugas menulis puisi dengan tema ”apresiasi” menulis puisi sederhana mengenai tukang sampah dan melalui tulisannya, ia mengingatkan betapa beruntungnya kita semua bisa hidup di lingkungan yang bersih dan nyaman tanpa gangguan sampah berkat tukang sampah. 

Jujur saja, seandainya ”aktivitas kedua” yang saya buat ternyata gagal lagi, saya benar-benar sudah kehabisan ide. Saya akan meminta bantuan guru kelas 4 lainnya (yang selalu siap sedia menolong) untuk mengajarkan bagaimana menulis puisi dan menerima kenyataan bahwa saya tidak berbakat mengajar menulis puisi J.  

About these ads

10 Tanggapan

  1. menurut saya, puisi bisa menjadi sarana untuk menyalurkan emosi (emotion release) secara proporsional dalam segala bentuk suasana. Jika anda sedang marah, coba ungkapkan kemahan itu pada puisi bak Chairil Anwar yang yell yell terhadap penjajah dalam sajak AKU dll. COBA DEH, RASAKAN BEDANYA…

    SALAM

  2. wah, salut deh buat para pengajar di sini; tentu sembari membayangkan memahamkan puisi pada siswa kelas 4 sd yang notabene gagap atas definisi atau bagaimana menuliskan puisi.
    demikian puisi tidak jauh berbeda dengan menggambar, melukis, bermain atau berpetualang di alam lepas. mengenalkannya di usia dini tentu saja sangat perlu guna menyeimbangkan kemampuan imajinatif, di samping kemampuan kognitif si anak. usaha semacam ini memang tidak bermuara pada munculnya penyair baru atau hanya menciptakan sekedar penulis puisi; namun bagaimana si anak mengenali dunia (situasi) sekelilingnya secara berbeda.
    gambaran si anak tentang binatang yang berbentuk tak jamak dalam secarik lukisan tugas sekolah, mesti diterjemahkan sebagai kemampuan lebih si anak dalam bidang visual. kemampuan si anak ini jika dilanjutkan lewat ekspresi tulis, barangkali bisa menjadi selarik puisi. lewat daya ucapnya yang lugu, bisa jadi kita menemukan kejujuran di dalamnya; sewaktu si anak memahami, melihat atau mengandaikan dunia (situasi) sekelilingnya. bahkan penyair seperti subagyo sastrowardoyo pun tetap mengambil perspektif keluguan seorang bocah sewaktu menghadapi suatu yang rumit (dalam “dan kematian semakin akrab).
    sekali lagi saya salut atas usaha para pengajar di sini untuk dini mengenalkan puisi kepada siswanya. sebab saya yakin penyair tidak dapat diciptakan maupun dilahirkan; namun penyair adalah mereka yang ditemukan mati di puncak malam.

    Terima kasih atas komentarnya :)
    Kami jadi mendapat banyak masukan dan jadi terinspirasi untuk memakai ide “memberi gambar” pada mereka untuk kemudian mereka intepretasikan sesuai imajinasi mereka masing-masing dan kemudian mereka tuliskan dalam bentuk puisi. Selama ini kami sering menggunting potongan-potongan gambar dari koran dan meminta siswa/i kami menulis pendapat/komentar tentang gambar tsb. Tapi, belum pernah terpikir untuk melakukan aktivitas ini dalam mengenalkan puisi. Sekali lagi, terima kasih banyak atas ide dan masukannya. Kami tunggu lagi ide-idenya :)

    Salam,

  3. yup puisi itu kan gambarn hati

  4. Salam kenal. Bisa diceritakan lebih lanjut penglaman mengajar menulis puisinya? Kebetulan saya juga sedang mengajar siswa kelas 5 SD menulis puisi. Bingung juga gimana mengajarnya hehehhe. Makasi.

    Salam kenal juga Pak..
    Saat mengajar menulis puisi, kami juga sering menggunakan media audio.Kami memutar lagu2 instrumental dengan tempo (tipe lagu) yang berbeda. Kemudian, kami meminta siswa untuk menulis sesuatu berdasarkan musik yang mereka dengarkan. Siswa/i dapat dengan bebas menggunakan imajinasi mereka. Biasanya satu jenis musik kami perdengarkan berulang-ulang.Intinya, jangan segan2 untuk berinovasi dan berimprovisasi dalam mengajar puisi,hehehehe. Agar siswa/i tertarik, kita harus kreatif, setuju???

    cheers
    Year 4 team

  5. salam kenal Ibu/Bapak Guru yang cerdas dan kreatif,

    Pengalaman mengajarnya sangat inspiratif. Saya senang membacanya.

    Saya mengelola “sekolah2an” bersama teman2 mhsw Indonesia di Jepang untuk mengajar sekitar 15 org anak Indonesia yg ikut ortunya ke Jepang untuk belajar bahasa Indonesia.
    Juga ingin mengajari mereka pandai menyusun puisi, tp sayangnya mereka masih menggunakan Bhs Jepang di dlm kelas, dan ada yg sejak lahir di Jepang, ngga ngerti sama sekali Bahasa Indonesia.
    Pernah sekali menunjukkan mereka gambar anak sedang makan nasi remah, lalu meminta mrk menanggapi, sebagian berteriak dg bahasa Jepangnya…hiks…

    Btw, ide potongan kertasnya, menarik untuk belajar merangkai kata dalam Bahasa Indonesia.
    Terima kasih banyak, Bu guru….

    selamat berkarya !

    Terimakasih untuk komentarnya. Kebetulan kami juga punya beberapa pengalaman mengajar anak yang tidak bisa bahasa Indonesia ataupun tidak bisa bahasa Inggris. Strategi yang sering kami gunakan antara lain adalah:

    membuat permainan “jumble words”, dimana kami menulis kata-kata dalam bahasa Indonesia/Inggris (tergantung kebutuhan) pada potongan kertas karton dan meminta mereka untuk menyusunnya menjadi sebuah kalimat.

    meminta siswa/i untuk menggambar apa yang mereka lakukan saat akhir pekan dan meminta mereka untuk menceritakannya. Cerita mereka harus memuat unsur “siapa, kapan, apa, dimana, bagaimana, kenapa”. Hal ini kami lakukan terus-menerus secara konsisten sehingga mereka jadi terbiasa.

    Cheers

    Year 4 team

  6. hehehe…. saya sekarang masih menjadi mahasiswa, kemarin saya ditugasi membuat rpp.. terimakasih karena alternatif menulis puisi yang anda tawarkan di atas sangat berguna….

  7. salam kenal. menulis puisi ya?intinya memunculkan dan menumpahkan ide dengan bahasa yang menarik. saya jg px ide pembelajaran menulis puisi buat SD, yaitu siswa menulis puisi dengan cara bertahap, misal:siswa diberi puisi yang terdapat kata/kalimat yang dihilangkan. awalnya 5 kata, lalu 2 kalimat, lalu 6 kalimat dengan puisi yang berbeda. selanjutnya, barulah siswa diminta membuat puisi secara utuh. ide ini belm prnah dipraktekkan sih krn sy msh mahasiswa. he..he..atau bs jg KBM menulis puisi scr outdor dan siswa diminta membuat puisi dengan tema sesuai dengan yang ia lht shgg indera siswa jg dpt bekerja.terima kasih.

    terima kasih atas masukkannya :)
    akan kami coba

  8. salam kenal…. untuk ngajar anak sd bener-bener butuh kesabaran ya

  9. tiada kata
    untuk mencurahkan hati
    di belantara
    hati ini terasa sepi

    hanya satu kata
    temanku menulis puisi
    Rabb,Engkaulah aku bersujud
    dalam
    sepi

  10. Wahhhh…salut dech buat para pengajar disini..salam kenal

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: